Bismillahirrahmanirrahimimagesm….

  1. Sejarah Dramaturgi

Dramaturgi dapat mempengaruhi drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter ”orang lain” sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan. Dramaturgi juga digunakan dalam istilah teater namun term dan karakteristiknya berbeda. Dramaturgi dari istilah teater dipopulerkan oleh Aristoteles. Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, seorang filosof asal Yunani, menuturkan, Poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan bagi dunia teater. Dalam Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan atau drama-drama berakhir tragedi atau tragis ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics, Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam Poetics Aristoteles menyanjung Kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan. Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, namun Aristoteles bekerja secara utuh menganalisa drama secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi naskahnya saja, tetapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Dia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama versi aristoteles, dimana deus ex machina adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien. Banyak konsep kunci drama, seperti anagnorisis dan katharsis dibahas dalam Poetica. Sampai sekarang  “aristotelian drama”  sangat terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan televisi, buku-buku panduan perfilman bahkan kursus-kursus singkat perfilman (dramaturgi dasar) yang  biasanya sangat bergantung kepada dasar pemikiran yang dikemukakan oleh Aristoteles. Pada tahun 1945 dimana Kenneth Duva Burke, seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik daripada model pengetahuan.  Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. Pada tahun 1959, The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman, seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.[1]

  1. Pengertian Darmaturgi

Dalam karya seni yang berbasis tulisan, istilah dramaturgi dikenal secara umum. Secara sederhana, dramaturgi adalah alur emosi dalam sebuah cerita. Ada yang berpendapat naik-turunnya plot, atau naik-turunnya alur cerita, atau sesuai dengan kata dasarnya “drama – dramatik” dapat diartikan dramaturgi adalah naik turunnya sensasi dramatik dalam sebuah cerita.[2] Dramaturgi merupakan ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi atau persetujuan drama. Kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu dramoai yang berarti berbuat, berlaku, beraksi, bertindak, dan “drama” berarti perbuatan, tindakan. Ada orang yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan, mengerikan, sehingga dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi.[3] Dalam dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian dari kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Darisinilah peran dramaturgi ada, bagaimana bisa menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai dengan pertunjukan teater. Manusia adalah actor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan ujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramannya sendiri”. Sbelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang harus mempersiapkan perannya erlebih dahulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. 2. Ruang Lingkup Dramaturgi Teater merupakan kisah kehidupan manusia yang disusun untuk ditampilkan sebagai pertunjukan diatas pentas oleh para pemain dengan dan ditonton penonton. Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak terlepas dari aspek tanda dan simbol kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang merupakan bahan penciptaan bagi penulis teater unyuk membangun pertunjukan dengan penuh tanda dan simbol. Tanda dan simbol yang sifatnya universal dijadkan sebagai dasar dari komunikasi teater. Ruang lingkup dramaturgi dapat diartikan sebagai cerita dalam bentuk dialog yang menyuguhkan human conflict. Tetapi, dramaturgi merupakan sumber bahan pementasan untuk menjadi tontonan (theatre atau theatron). Di Amerika dan Inggris dikenal dengan play, berasal dari kata play wright  yang artinya kisah lakon. Maksudnya kisah yang disajikan untuk keperluan pementasan tau untuk dipentaskan. Oleh sebab itu, drama bisa berarti; naskah lakon dan kisah yang dipentaskan atau oementasan naskah lakon drama. Drama sebagai lakon aau naskah mempunyai ciri khas dan berbeda dengan jenis sastra lainnya. Dalam nsakah drama ada yang disebut dengan percakapan atau disebut dengan wawancang. Wawancang merupakan dialog-dialog tokoh yang satu dengan yang lain. Di samping itu, ada bagian yang disebut dengan kramagung yang biasannya ditulis dengan tanda kurung “(…)”. Kramagung ini bagaikan perintah bagi tokoh (pelaku) untuk berbuat sesuatu yang lahir.[4] 3. Macam-macam Dramaturgi Dramaturgi menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu drama baru dan drama lama.

  1. Drama Baru atau Drama Modern

Drama baru adalah drama yang memiliki tujuam untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat umumnya, betemakan tetntang kehidupan manusia sehari-hari.

  1. Drama Lama atau Drama  Klasik

Drama lama adalah drma khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan, keistanaan atau kerajaan, dsb. Macam-macam drama yang berdasarkan isi kandungan cerita, antara lain: 1)      Lelucon atau Dagelan Lelucon adalah drama yang pemainya selalu bertingkah jenaka yang merangsang canda tawa penonton 2)      Opera Opera adalah drama yang mengandung nyanyian dan musik 3)      Wayang Wayang adalah drama yang pemainnya adalah bonka wayang 4)      Drama Komedi Drama komedi adalah drama yang lucu dan penuh dengan keceriaan 5)      Drama Tragedi Drama tragedy adalah drama yang ceritanya sedih dan penuh dengan kemalangan 6)      Drama Tragedi-Komedi Drama tragedy-komedi adalah drama yang sedih, tetapi ada cerita lucunnya. 7)      Pantomim Pantomim adalah dtrama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh saja atau bahasa isyarat tanpa ada pembicaraan 8)      Passie Passie adalah drama yang mengandung unsur agama atau reigius 9)      Tablau Tablau adalah drama yang mirip pantomime tetapi dibarengi dengan gerak-gerik anggota tubuh dan ekspresi wajah pelakunnya 10)  Operet atau Operette Operet adalah opera yang ceritannya lebih pendek dari opera[5] 5. Pengertian : a. Kontemplasi Kontemplasi merupakan kegiatan perenungan, berpikir, mengevaluasi diri. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya renungan dan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Dengan meluangkan waktu untuk berpikir, merenungi apa yang terjadi, yang kemudian bisa segera memutuskan dan mengambil langkah pada suatu masalah atau tantangan yang sedang dihadapi.[6] b. Meditasi Meditasi adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup sehari-hari. Secara istilah, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku. Dengan kata lain, meditasi melepaskan beban pikiran baik dan buruk yang sangat subjektif dan proporsional berhubungan langsung dengan kelekatan kita terhadap pikiran dan penilaian tertentu.[7] c. Pernafasan Pernafasan adalah pertukaran gas antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungan. Pernapasan adalah suatu proses dimana kita menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan karbondioksida dan uap air.[8] d. Kosentrasi Konsentrasi merupakan attencion atau perhatian searah terhadap suatu hak dan berkaitan terhadap apa yang saat ini dihadapi dan dijalani.[9] e. Relaksasi Relaksasi adalah kegiatan yang memadukan otak dan otot. Otak yang “lelah” dibuat tenang dan otot yang tegang dibuat santai. Jika seseorang melakukan relaksasi, puncaknya adalah fisik yang segar dan otak yang siap berfikir kembali. Oleh karena itu, relaksasi melibatkan komponen-komponen penting tubuh yang secara terus menerus dipakai, misalnya panca indra, pernapasan, aliran darah, sotak dan otot-otot rangka.[10]  

Alhamdulillahirabbil’alamin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s