Dimanakah al-Qur’an Dalam Diriku???

Oleh : Ririn Sippirily

“Alif, Ba, Ta, Tsa…”,ucap santri-santri dari TPQ Tsamrotul Fuad.
Terdengar suara para santri TPQ yang bersemangat untuk mengaji. Terkadang walau cuaca mendung atau hujan deraspun mereka bela-belain untuk berangkat mengaji. Menyenandungkan lafal-lafal huruf hijaiyah yang terukir indah nan unik walau hanya sekedar masih taraf mengeja saja, seperti yang dialami oleh Yuli dan Jiroh. Mereka santri yang sekarang sudah menginjak jilid 5, yang berkeinginan belajar dan bisa membaca al-Qur’an dengan benar, sesuai dengan tajwid. Yuli yang bercita-cita ingin menjadi Hafidzah sedangkan Jiroh ingin menjadi Qori’ handal (sungguh mulia keinginan anak-anak ini). Tak kalah hebatnya, kakak Jiroh, Fauzi, yang sekarang menjadi hafidz terkenal yang sering menjuarai perlombaan samapi kancah internasional, sampai-sampai mendapat beasiswa untuk melanjutkan perguruan tinggi di al-Azhar, Mesir. Orangtua Jiroh dan Fauzi hanya bekerja sebagai penjual gorengan yang hasilnya terkadang tidak menentu. Mereka sangat bangga memiliki anak-anak yang sholehah.
^^^
“Assalamu’alaikum, emak? Jiroh pulang…”
“Wa’alaikumsalam,eh anak emak sudah pulang mengaji. Kepriye tadi ngajinnya? Sudah sampai halaman berapa?”
“Sampai halaman 45, sebentar lagi jilid 6. Emak..Jiroh lapar”
“Itu ada tahu, entar tinggal dikasih kecap aja ya sayang. Engga papa kan?”
“Iya engga papa emak, santai saja dengan Jiroh. Kan kata bu Ustadzah, kita harus pandai-pandai bersyukur, agar kelak rezeki yang kita dapat, akan berkah”
“Hmm..anak emak memang top deh. Ya sudah sebelum makan ganti baju dulu ya, nduk?”
“Oke…”
Jiroh dan Yuli, dua sahabat “ngaji” yang sering bermain bersama, terkadang mengadakan perlombaan ngaji sendiri yang ndilalah dijuri oleh mereka sendiri. Mereka berdoa, agar suatu hari keinginan mereka tercapai. Begitulah doa dari anak berusia 10 tahun, masih polos tanpa dosa.
Setelah menginjak usia remaja, semangat para anak-anak muda di kampung “Tenteram” untuk mengaji mulai kendor, kebiasaan “ramai” oleh suara-suara mengaji yang dulu sering terdengar di TPQ kini mulai sepi, hanya terlihat beberapa gelintir orang saja. Tapi, tidak termasuk dengan Jiroh dan Yuli. Dia sekarang sudah naik tahta, dari ngaji ber”jilid” sekarang mengaji sampai tingkat al-Qur’an. Dia termasuk anak yang paling cepat, tidak ada 3 bulan untuk menempuh dari jilid 5 langsung melesat ke al-Qur’an. Ini impian Jiroh dari dulu, ingin sekali memegang al-Qur’an yang katannya kitab suci umat islam serta, bermimpi bisa membacannya dengan lancar serta fasih. Dibanding dengan teman-temannya yang lain, termasuk Yuli, teman sepermainannya.
^^^
Berbeda dengan dulu, semasa kecilnya. Dia kini mulai sibuk, sekolah sering pulang sore yang akhirnya tidak bisa berangkat ke TPQ yang jamnya biasannya pukul 14.00, dimana anak-anak sudah pulang dari sekolah umum. Terkadang tidak sempat untuk mengaji di rumah, karena disibukkan dengan belajar atau kecapaian. Maklum saja, Jiroh sekarang sudah kelas 1 SMP, jadi masih sering-seringnya bermain dengan temannya. Terkadang teguran dari abah sering terlontar apabila Jiroh tidak mengaji apalagi malas untuk berangkat ke TPQ, dengan alasan gengsi karena teman-temannya sudah tidak ada yang mengaji dikarenakan banyak temannya setelah lulus dari SD, mereka merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Jiroh sekarang sudah banyak berbeda, bantahan demi bantahan dia ucapkan untuk menutupi kesalahannya, gampang emosi dan terkadang juga sering mengamuk kalau emak menyuruhnya untuk ke pasar sekedar menyuruh untuk membeli garam atau terasi karena kebetulan persediaan di dapur sudah habis.
Dimanakah aku dulu yang selau kau dengungkan, kau iramakan, dan kau buka setiap saat??
Semakin usia bertambah, al-Qur’an yang dulu sering dipeluk Jiroh hanya tergeletak diatas lemari. Dibiarkan dilumuri debu, tanpa memperdulikan lagi pentingnya kegunaan membaca al-Qur’an dan semakin acuh oleh kesibukan duniawi. Abah dan emak sudah tidak bisa berkata apa-apalagi. Sekarang Jiroh sudah besar dan bisa memutuskan sendiri apa yang dia lakukan, apakah merugikan atau menguntungkan bagi dirinya sendiri.
^^^
Tiba-tiba, suatu hari umat muslim digencarkan dengan kabar berita tentang pembakaran al-Qur’an oleh pendeta di Amerika. Umat islam di dunia langsung murka dan seketika mengutuk para pendeta tersebut, salah satu akibat kemurkaan tersebut juga dialami keluarga Jiroh, sontak mereka marah dan sengit dengan perlakuan pendeta tersebut.
“Dasar kaum yahudi, selalu saja membuat gara-gara!”, Jiroh berteriak
“Sabar, kita jangan terpancing dengan sikap mereka. Jadikan saja sebagai renungan, apakah kaum muslim sekarang gemar membaca al-Qur’an serta mengamalkannya?”, kata Abah
“Tapi kan bah, engga gitu-gitu juga kalii…”, Jiroh tetap saja mengelak
“Sudah, jangan salahkan sikap mereka. Contohnya saja kamu nduk, apa pernah al-Qur’an yang ada di kamarmu, kamu baca? Menyentuh saja tidak pernah apalagi disempatkan untuk membacannya? Ya kan …? Asal kamu tau, al-Qur’an tidak pernah mengajarkan tentang keburukan, al-Qur’an selalu mengajarimu kebaikan, misalnya saja tentang bertutur lembut dengan orang yang lebih tua”, ucap emak
-Pause…….-
Serasa dunia berhenti berputar, waktu terhenti, tanah menjadi gersang dan bumi menjadi gelap. Seketika, Jiroh bergegas menuju kamarnya. Menatap al-Qur’an dengan mata rasa salah, mengusapnya-usapnya, meniupnya, dan membersihkannya sari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian didekapnya erat-erat, sembari mengingat masa kecil ketika belajar mengeja huruf hijaiyah, menghafal surat al-fatihah dan surat pendek lainnya.
“Astaghfirullahaladzim…”, tiba-tiba jantungku berdetak kencang, seketika air mataku menderas.
Jiroh terus menagis dalam langkah gelisah, haruskah melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? atau akan lebih baiknya jika menjawab dengan cinta dan kasih sayang (meneladani Nabi Muhammad SAW) dengan menunjukan kepada mereka kebaikan cahaya al-Qur’an.
“Berapa lama-kah aku acuh denganmu??”, Tanya Jiroh dalam hati
Langsung dia bergegas mengambil air wudhu, ingatannya melesat mundur ke masa kecilnya dulu. Dan detik ini juga, Jiroh seperti belajar membaca pertama kali, dieja dan mengalami kesusahan. Tetapi? ada Yuli, sahabat yang selalu menuntun dan sabar mengajari.
“Takkan aku mengulangi hal bodoh ini, maafkan kulo Gusti Allah…”, ucap Jiroh dalam hati.

2 thoughts on “Dimanakah al-Qur’an Dalam Diriku???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s