Cekikikan

Terik panasnya hari mengukus kulit disertai dengan cucuran keringat. Rombongan sahabat ini dengan mesranya menyisiri jalan raya yang tersa lengang. Kemesraan atas kebersamaan yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Kemurnian akan kesetian dan tanpa nafsu membuahkan kemanisan dan keromantisan bersilaturahim. Tidak terasa angin mengeringkan baju yang penuh keringat. Dan sampailah mereka ke tempat yang dituju, yaitu pameran batik besar-besaran di Kota Pekalongan.
“Rin, kamu mau milih yang mana? Kembaran aja yuk?!”, tawar Fatim
“Ayook rah, Fat. Aku setuju banget”, serobot Lulu
“Emm..aku sih sebenarnya pingin banget kalau kita samaan bajune. Tapi….”, melas Rina
“Tapi apa, Sayang?”, tanya Lulu dengan penasaran
“Aku tidak bawa uang banyak. Kapan-kapan saja iya beli batik kembarnya, gimana?”, kata Rina, dengan memasang mimik memelas
“Ya sudah deh , lagian kita kalau beli percuma dong, kan kamu tidak beli”, kata Fatim, dengan dewasannya
Hubungan pertemanan mereka yang melampaui batas, selalu dipandang iri oleh teman di kampusnya. Bagaimana tidak? Kemana-mana selalu bersama. Mereka berharap kebersamaannya selawas-lawasnya. Dan mereka telah mengukir nama Lulu, Fatim, Rina dihatinnya masing-masing, tak ada penyekat dan tertulis pada prasasti hati mereka yang tertancap di palung hati .

2 thoughts on “Cekikikan

  1. sayyy….coba judulnya di add aja sayang……

    coba ganti dengan i like my friend, or indahnya jalan bersama mereka, atau sahabat memang berarti………………soalnya yg dimaksud cekikikan apanya say…

    hehe just masukan sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s