halte

Tangisan itu menyeruak seluruh sudut isi kamar kos Naya. Dia terharu melihat sinetron yang ditayangkan di televisi. Kisahnya sangat tragis, sang cewe hanya dimanfaatkan oleh kekasihnya. Dalam benak Naya, dia tidak akan merasakannya kelak. Berlembar-lembar tissu sudah ia habiskan untuk mengusap air mata yang keluar deras. Ini memang terlalu berlebihan, tapi ini memang sifatnya Naya yang menjadi cewe yang cengeng.
Hape Naya berdering lagu Rido Rhoma berjudul Let’s Have Fun Together. Langsung dia mencari hapenya..
“Hallo … Assalamu’alaikum?”, Salam dari seseorang yang ada di seberang sana yang ternyata sahabatnya sendiri, Dentana.
“Wa’alikumsalam… Hei Den, ada apa? Tumben-tumbennya popond aku?”, goda aku
“Jiiiah….haruse kamu besyukur dong di popond cowo keren kaya aku… ?”
“UUeeeekk…., kamu mau ngomong apa ? aku lagi nonton sinetron nih ……”
“Kebiasaan dari dulu, enggak pernah ketinggalan nonton sinetron. Gini loh Naya sayang…., entar malam ada acara enggak? Kalau enggak ada, ikut aku yok … aku mau ngobrol-ngobrol nih sama kamu… , sudah hampir setahun kan kita enggak ketemu?, lagian mumpung aku libur kuliah, jadi aku sempetin pulang ke Indonesia hanya untuk bertemu sama kamu “
“IWah.. so sweet. Enggak ada Den. Sip deh, jam tujuh teng ya kamu jemput aku?”
“Okkeeee…naya, makasiih ya?”
Langsung hilang seketika suara sahabatnya itu…, kemudian Naya melanjutkan menonton sinetron yang sekarang masih berlangsung.
“Sekarang mau kemana, Den?”, tanyaku
“Ke Kafe biasa aja ya ?”
“Oke….”
Hujan deras menerima perjalanan mereka, tak luput Naya memandangi pemandangan-pemandangan yang ada di luar. Sedangkan, Deni sedang menggunakan earphone mendengarkan music kesukaannya. Yah kebiasaan mereka memang berbeda-beda. Tidak terasa mereka sudah sampai di kafe langganannya.
“Pesen apa kamu, Nay?”
“Steak aja….minumnya lemon juice”
Sembari menunggu makanan datang, Naya memulai pembicaraan yang sudah mulai hening, hanya bunyi tetesan air hujan yang masih tersisa.
“ Den.. “
“ Apa?”
“ Gimana di Australia, cewe-cewenya cantik-cantik kan?”
“ Enggak ada ko’, disana enggak ada yang secantik kamu Nay. Hahaha”
“ Hmm.. mulai deh nggombalnya…, “
“ Enggak percaya, ya suddah..”
“ Ngambek nih ceritannya? Ya udah aku percaya aja weeees”
“ Naya…..?”
“ Ya ada apa, Den? “
“ Hmmm… Sebenaaaarnyaaaaaaaaaaa….”
Tiba-tiba dering telefonnya berbunyi, dilihatnya nomor asing. Setelah diangkat, ternyata Mas Diset (kakak kelas SMAnya dulu )
“ Enggak menyangka, mas Diset masih ingat saja denganku”, kata Naya dalam hati
Rona bahagia tersirat jelas di pipi memerahnya. Memang dulu Naya pernah suka sama Diset, tapi? Cuma sebatas suka tidak lebih. Tapi sekarang menjadi maha dahsyat sukannya, mungkin berubah menjadi sayang. Walaupun tidak pernah bertemu, paling tidak dia masih ingat Naya. Ternyata mas Diset satu universitas dengan Naya, cuma berbeda jurusan. Cukup lama mas Diset telfon Naya, sehingga menjadi wajah Dentana semakin suram karena menungguinya telfon.
“ Pertanda apa ini, Tuhan?”, Tanya dalam hati

Mentari telah terbangun dari tempatnya. Semua makhluk telah menanti kedatangannya, mereka bergegas untuk menjalankan aktivitasnya dan tetap bersyukur atas nikmat yang ada, karena Tuhan masih memberi kesempatan untuk hamban-NYA.
Tetapi lain hanya dengan Naya yang masih terlelap dalam alam bawah sadarnya. Dering hape berbunyi. Dilihat layar dari handphonennya, nama Mas Diset terpampang, sontak mata terbelalak dan langsung jemarinnya menekan tombol hijau yang ada di sebelah kiri bawah dari handphone.
“ Pagi … masih tidur ya? Ko’ angkat teleponnya lama banget?”
“ I…iiya mas…., maaf ya??”
“Iya enggak papa ko’, oh ya hari ini kamu ada kuliah tidak ?”
“Enggak ada mas, emang kenapa?”
“ Ketemuan yuk ? sekalian mas mau bilang sesuatu”
“ Hmm..dimana ya ?? Halte deket kampus saja ya?, tak tunggu jam 9 pagi”
“Okkei…”
Langsung Naya tancap gas untuk mandi, setelah membereskan tempat tidurnya. Tidak tahu kenapa, Naya semangat sekali untuk bertemu pujaannya semasa SMA dulu. Naya hanya bisa tertawa geli, setelah itu tak peduli khayalnya terbawa kemana-mana. Dia berusaha dandan secantik mungkin.

Di Halte…
“ Sudah lama nunggu ya, mas?”
“ Lumayan sih…, kos kamu jauh ya ?”
“ Iya…., maaf ya sudah membuat lama menunggu?”
“ Iya enggak papa…”
Setelah berbincang lama, menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing, akhirnya Diset membuka percakapan inti. Memang saat berbicara suara harus diperkeras, karena banyak mobil dan sepeda motor berlalu lalang di depan mereka.
“ Sebenarnya mas itu sudah suka kamu sejak dulu, Nay…, tapi mas baru bisa ungkapin sekarang”
Sontak hati Naya kaget mendengar ucapan dari pujaannnya yang sampai sekarang rasannya masih terbungkus rapih. Dia serasa terjebak, antara syahwat ingin memiliki cintannya itu dengan keragu-raguannya dia untuk menjalin ikatan kasih lagi. Walaupun sebenarnya bayangan mantannya masih saja berlenggang-lenggong dengan lincah di alam fikiran Naya. Di dalam hati kecilnya, dia ingin mencoba membuka lembaran baru. Dan menyakini hati bahwa mas Diset memang terbaik untuknya.
Suasana Halte itu memang Ramai, tapi ? tidak dengan hati Naya. Yang sedang perang batin, antara IYA atau TIDAK.
“Naya?? Ko’ diem?, Mas salah nanya ya ma kamu?”
“Enn….g…enggak kog mas, Naya masih bingung aja, kog mas cepet banget suka sama Naya. Padahal kita lama enggak ketemu loh mas, eh setelah ketemu mas ternyata suka sama Naya…”
“ Sebenarnya mas suka sama kamu itu sudah lama, waktu kamu masih kelas satu SMA, tapi kamu enggak nyadar aja kalau lagi disukai kakak kelas”
“Oh,,,,begitu toh ? terus maunnya mas gimana?”
“Kita jadian…..”
“ Apah ? jadiann ??!!!”
“ Iya,.,,,,”
“ Hmmm…Naya juga perlu berpikir untuk menimbang-nimbang dulu, sebelumnya Naya minta maaf kalau agak sedikit lancang. kalau mas mau memamng mau menunggu, dua hari lagi mas nemuin Naya lagi Tepat di Halte ini, gimana? Sanggupkah?”
“ Iya, sanggup..”, ucap Diset dengan lantag dan tegas.
“ Baguuslah…”, kata Naya, dalam benaknya.

Dua hari kemudian, Diset menemui Naya yang sudah menunggunya lima belas menit yang lalu.
“ Maaf lama, tadi masalahnya macet”
“Iya enggak papa kog mas..”
“ Gimana jawabannya…….Nay?”
“ Mmm…. “
Naya tampaknya terlihat gugup. Perasaannya tak menentu. Apakah ini hanya mimpi? Atau sekelumit Slide kehidupan dia yang tak bisa dihindari? Entahlah.. yang penting Naya berkeyakinan bahwa dia tidak ingin menjadi orang yang munafik dengan perasaan sendiri, Naya benar-benar sayang dengan lelaki berpawakan tinggi dan agak sedikit gemuk itu. Walapupun dari segi penampilan terlihat seperti bocah urakan, tapi Naya mau tidak mau harus menerima kekurangan dia. Butuh waktu dan jalan untuk mendapatkan cinta yang bener-bener cinta.
“ Naya?”, sapa Diset
“ Iya mas….”, Naya terkaget
“ Gimana jawabannya…”, Diset sambil menaikkan alis kanannya ke atas
“ Hmmm…. Dengan kemantapan hati, Mas Diset, Naya terima”
“ Beneran ni, Nay?, Mas enggak percaya, coba cubit tangan mas”
“ Ih……”
“ Aduh … sakit sayang…, Upz….keceplosan panggil sayang. Tapi enggak papa kan mas panggil Naya sayang?”
Naya hanya tersenyum …

Hari demi hari, Naya menjalankan rutinitasnya sebagai mahasiswi di perguruan tinggi ternama di pusat kota Solo dengan semangat. Walaupun sebenarnya setiap hari dia semangat, tetapi ada lain hal yang membuat Naya bersemangat, sekarang dia tidak menjomblo lagi, ya sekarang ada mas Diset yang membuat hati Naya tersenyum lagi, setelah sempat dua tahun yang lalu Naya tersakiti oleh cowo’ dan pada saat itu, dia tidak berani merajut kasih lagi dengan seorang cowo’.
“ Hayo.. nglamunin siapa ni, Nay ?”, sahut Shaira
“ Adduuh…!!! Shaira!! Kamu ngagetin aja deh !”, marah Naya
“ Habis kamu daritadi tak lihatin nglamun aja sih. Emang lagi nglamunin sapa sih ?, aku ya?? Hahahaha “
“ Idih .. PD banget sih kamu ?? , ini loh aku lagi seneng. Akhirnya Tuhan ngirimin obat luka buat hatiku yang hampir dua tahun terluka”
“ Emang siapa sih, cowo yang beruntung itu?”
“ Hmmm… kasih tau enggak ya?”
“Naaaaayaaa….. aku penasaran, siapa sih?”,
“ Dia mahasiswa dari jurusan sebelah”,
“Maksud kamu? Anak dari jurusan Komunikasi itu?”, kata Shira yang mencoba menebaknya
“he’em..”, naya menjawabnya sambil tersenyum
“ Walah…Naya ? selamat ya?, sudah berapa bulan ni?”
“ Walah, belum ada sebulan, baru seminggu.. Heheehe”
“ Semoga dia yang menjadi obat yang benar-benar mengurangi rasa sakit kamu ya, Nay?”
“ Amin, semoga saja, Ra..”
Memang pada waktu itu, udara sangat panas. Tetapi lain halnya dengan sekumpulan aktivis mahasiswa yang ada di bawah pohon rindang. Mereka sedang asyik berdiskusi tentang bagaimana bisa membuat lingkungan ini menjadi bersih dan nyaman untuk tempat tinggal. Dan, Naya termasuk aktivis lingkungan. Walaupun jurusannya Psikologi, dia termasuk seorang mahasiswi yang begitu mencintai dan memperhatikan lingkungan. Menurutnya, kalau kita bisa mencintai lingkungan, maka lingkungan juga akan mencintai kita. Kita akan terlindungi dari macam penyakit, salah satunnya.

Naya sudah merasakan jenuh menjalani hubungan dengan anak komunikasi itu. Pesan terkirim di hapennya sudah dipenuhi namannya. Memang dia sering mengirim sms kepada kekasihnya itu, tetapi yang membuat miris tidak ada balasan satupun dari dia. Naya terus menghubunginnya, tetapi nomornya sering tidak aktif, dia mencoba mengirim lewat pesan facebook dia siapa tahu dia membukannya dan kemudian membalasnya, ternyata hasilnya nihil. Seminggu, dua minggu, Naya masih bertahan dengan keadaannya sekarang. Sebenarnya dia sudah tidak kuat akan kelakuan kekasihnya itu, tapi Shira, sahabatnya selalu menguatkannya. Dan tepat sebulan mereka jadian, Naya tidak kuat akan kelakuan Diset. Dia mencoba datang ke kampusnya, walupun satu Universitas, tetapi lokasi kampusnya Naya dengan Diset lumayan jauh. Naya berharap dia dapat menemukannya, yang telah lama dia menanti atas kejelasan hubungannya.
“ Baru saja dia pergi dengan cewennya tadi…”, kata Fikri, teman Diset
“ Apa? Cewennya?”
“ Iya, cewennya. Katannya sih baru jadian tiga minggu yang lalu”
Serasa ada petir di siang bolong yang menyambar di telinga Naya. Dia tidak tahu harus bagaimana, menangis-kah ? atau bagaimana?.
“ Ya sudah mas, terimakasih ya?”
“ Yoi mba.., Oh ya, apa ada pesan buat Diset? “
“ Iya, katakan saja kalau nanti malam dia disuruh ke kos nya Naya, terima kasih ya, mas?”
“ Ya mba, sama-sama  “
Diusapnya air mata yang sudah menetes di pipi Naya, takutnya ada orang lain tahu tentang penderitaannya selama sebulan ini. Dia mencintai dan menyayangi Diset apa adannya. Naya mengenal betul, bagaimana kakak kelasnya itu yang sudah mengambil hatinnya. Dari gayannya saja urakan, tetapi Naya tidak pernah protes dengan penampilannya. Akan tetapi, dia malah tambah sayang dengan Diset. Tetapi, ternyata usaha dia untuk sayang dengannya sia-sia. Hatinnya sudah lebur, mungkin sekarang tidak terbentuk lagi.
“ Naya? Sudah malam…, ayuk masuk “, Ucap Shira, dia memang tidak tega dengan penderitaan sahabatnya itu. Terlalu kejam si Diset itu.
“ Engga, Ra. aku mau nunggu mas Diset sampai dia datang”, Ucap Naya yang tetap kekeh dengan keinginannya.
“ Kamu sudah mencoba menghubungi dia?”
“ Sudah, tetep saja tidak diangkat  “
“ Ya sudah, sekarang tidur aja ya?”
“ Enggak mau, Ra. aku mau nunggu mas Diset sampai dia benar-benar datang dan peduli sama aku. Aku sudah menaruh harapan besar pada dia. Aku berharap dia dapat menyembuhkan luka ini, tetapi ? dia malah membuat luka ini semakin lebar menganga. Dia memilih berlalu dengan cewek selingkuhannya. Aku ini dianggap engga sih sama dia, Ra?. dulu ucapannya terlalu manis buatku sehingga hatiku terenyuh, tetapi sekarang? Ucapannya teramat getir. Aku benci Diset. Aku ingin putus!!!!”, kata Naya sambil menangis, dan Shira berusaha menenangkan hatinnya.

Keesokan harinnya…
Matahari sudah memperlihatkan cahayannya, dengan malu-malu. Tapi? Walupun malu-malu, panas sinar matahari sangat menyengat dan menyilaukan. Salah satunnya yang membuat Naya terbangun dari tidurnya. Mata Naya terlihat bengkak, gara-gara semalam menangis tak henti-hentinnya. Dia mencoba memberanikan mengirim pesan untuk Diset untuk memberikan keputusan.
Naya mulai mengetik unek-unek yang selama ini dia rasakan. Berharap Diset juga turut merasakan. Dia ingin mengakhiri hubungan selama satu bulan lebih terjalin. Dan yang membuat hati Naya tercengang, Diset meng-IYA-kan keputusan dari Naya. Serasa air mata ini sudah ada di pelupuk matannya, tinggal menunggu mengalirnya saja. Dia merasakan lega, dan bebannya sedikit berkurang. Tapi? Naya hanya manusia biasa, dia sempat emosi dengan Diset. Apa maksudnya Diset memperlukan Naya seperti ini. Dia tidak terima akan perlakuan Diset kepadannya. Tapi? Tak ada gunannya kalau dia mempertannyakan itu semua. Sekarang antara Diset dengan Naya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Memang kisahnya sangat singkat. Dia rasa, Diset orang yang paling jahat. Walupun jahat, Naya masih tetap menyayanginnya. Apalagi kalau Naya melintas Halte di depan kampusnya, dia harus tersenyum sambil matannya berkaca-kaca teringat orang yang disayangi, sekarang sudah tak lagi bersamannya.
Tetapi, di seberang sana, ada Dentana yang selalu menunggu cinta Naya. Dan berharap, Naya akan menjadi pelabuhan hati terakhirnya. Tetapi? Entah kapan waktunnya. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s