Strategi Pengembangan Dakwah

A. PENDAHULUAN

Dakwah merupakan tugas bagi setiap umat Islam yang dalam menjalaninya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Di lapangan begitu banyak persoalan dan tantangan. Mulai dari masalah ketidaktahuan umat terhadap syari’at hingga perselisihan antar umat Islam dan antar umat beragama. Disamping itu, saat ini zaman telah berkembang sedemikian rupa. Perkembangan budaya, ekonomi, pemerintahan, dan teknologi yang tumbuh begitu pesat. Bila dakwah Islam tak mampu mengikuti perkembangan zaman, tak menutup kemungkinan ia hanya akan terdampar di musieum peradaban. Dakwah hanya akan menjadi wacana dan kenangan semata, tanpa memperlihatkan pengaruhnya bagi umat dan dunia.

Untuk menghadapi hal tersebut perlu adanya pengorganisasian dan perencanaan yang baik, atau disebut juga dengan strategi. Sehingga dalam meleburkan diri dalam aktivitas dakwah, seorang da’i tak hanya berbekal keberanian dan keimanan saja. Karena perjuangan apapun bila tanpa strategi, akan terkalahkan dan kandas di tengah jalan.

Oleh sebab itu Dakwah Islam haruslah fleksibel, mampu mengikuti perkembangan zaman, perkembangan umat, dan perkembangan budaya umat. Untuk itu diperlukan strategi untuk mencapai hal tersebut, dengan kata lain begaimana kegiatan dakwah tersebut dikelola dengan memperhatikan fungsi menejemen yang profesional dan proporsional.

B. PEMBAHASAN

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani “strategia” yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.[1]

Menurut Onong Uchjana Effendi, bahwa strategi adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukan taktik operasionalnya.[2] Strategi dakwah Islam adalah perencanaan dan penyerahan kegiatan dan operasi dakwah Islam yang dibuat secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan Islam yang meliputi seluruh dimensi kemanusiaan.

Istilah strategi umumnya dikenal di kalangan militer karena berkaitan dengan strategi operasi dalam berperang. Strategi dalam pengertian ini berarti “Ilmu tentang perencanaan dan pengarahan operasi militer secara besar-besaran” atau berarti pula, kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu. Mengapa perlu strategi karena untuk memperoleh kemenangan atau tujuan yang diharapkan harus diusahaka, tidak diberi begitu saja.[3]

Dakwah artinya menyeru, mengajak, atau mendorong.[4] Secara etimologi perkataan dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti, seruan-ajakan-panggilan.[5] Menurut istilah dakwah adalah suatu proses upaya mengubah sesuatu situasi kepada situasi yang lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah yaitu Al-Islam.[6] Menurut Hasjmy, dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syari’ah Islam yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalakan oleh pendakwah sendiri. Tujannya adalah untuk membentangkan jalan Allah di atas muka bumi agar dilalui umat manusia.[7] Sedang menurut H. Endang S. dakwah adalah penjabaran, penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia (termasuk di dalamnya politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan kesenian dan sebagainya.[8] Menurut Asmuni Syukir strategi dakwah artinya sebagai metode, siasat, taktik atua meniuvers yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan) dakwah.[9]

Strategi dakwah yang dipergunakan di dalam usaha dakwah harus memperhatikan beberapa asas dakwah, agar proses dakwah dapat mngena sasaran dan mudah diterima oleh masyarakat objek dakwah. Beberapa asas dakwah yang harus diperhatikan di antaranya sebagai berikut :

1. Asas filosofis. Asas ini terutama membicarakan masalah yang erat hubungannya dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam proses atau dalam aktivitas dakwah;

2. Asas kemampuan dan keahlian da’i;

3. Asas sosiologi. Asas ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Misalnya, politik, pemerintah setempat, mayoritas agama di daerah setempat, filosofis sasaran dakwah. Sosio-kultural sasaran dakwah dan sebagainya;

4. Asas psikologis. Asas ini membahas masalah yang erat hubungannya dengan kejiwaan manusia. Seorang da’i adalah menusia, begitupun saran dakwahnya yang memiliki karakter (kejiwaan) yang unik yakni berbeda satu sama lainnya. Apalagi masalah agama, yang merupakan masalah ideologi atau kepercayaan (rakhaniah) tak luput dari masalah-masalah psikologis sebagai asas (dasar) dakwahnya; dan

5. Asas efektifitas dan efisiensi. Asas ini maksudnya adalah di dalam aktivitas dakwah harus berusaha menyeimbangakan antara biaya, waktu maupun tenaga yang dikeluarkannya dengan pencapaiaan hasilnya, bahkan kalau bisa waktu, biaya dan tenaga sedikit dapat memperoleh hasil yang semaksimal mungkin. Dengan kata lain ekonomis biaya, tenaga dan waktu, tapi dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin atau setidak-tidaknya seimbang antara keduanya.[10]

Dengan mempertimbangkan asas-asas sebagaimana tersebut diatas, seorang da’i tinggal memformulasikan dan menerapkan strategi dakwah yang sesuai dengan kondisi mad’u sebagai objek dakwah.

Urgensi Strategi Pengembangan Dakwah

a. Argumen Teoritis

Filosofi dakwah adalah usaha perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi, erat kaitannya dengan perbaikan (ishlah), pembaharuan (tajdid), dan pembangunan. Perbaikan pemahaman, cara berpikir, sikap, dan tindakan (aktifitas). Dari pemahaman negatif, sempit, dan kaku berubah menjadi positif dan berwawasan luas. Dari sikap menolak (kafir), ragu (munafik), berubah menjadi sikap menerima (iman), denan jalan ilm al-yaqin, haqqu al-yaqin menuju al-ain al-yaqin. Dari sikap iman emosional, statis, dan apatis, berubah menjadi iman rsional, kreatif, dan inovatif. Dari aktifitas lahwun, laib, laghwun yang tidak bermanfaat, baik secara individual dan atau secara kolektif. Semua itu untuk mewujudkan kegiatan dakwah yang antisipatif, kreatif, dinamis, dan relevan.

b. Argumen Empiris

Kondisi mad’u akan selalu berubah dan berkembang sesuai dengan tantangan dan kebutuhan yang dihadapinya, searah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih.

Apabila kenyataan kondisi sosial budaya selalu berubah dan berkembang, komponen dakwah yang erat kaitannya dengan usaha perubahan dan pembangunan perlu penyesuaian dan pertimbangan, pengakomodiran, dan pengarahan perubahan itu ke arah yang lebih baik, bernilai, dan lebih positif.

Walaupun teks suci (Al-Qur’an sebagai rujukan dakwah sudah final, tidak akan turun lagi, kenyataan yang terus berkembang menanntang dan selama manusia berada di dunia ini, persoalan dan tantangan tidak akan final (al-an-nushush qad intahat wa al-waqa’i la tantahi). Tantangan bagi para da’i adalah memiliki sikap kreatif dan inovatif, melalui ijtihad dalam menjawab tantangan masa depan.

Ketika dakwah diartikan sebagai transformasi sosial, dakwah akrab dengan teori-teori perubahan sosial yang mengasumsikann terjadinya progress (kamajuan) dalam masyarakat. Idea of progress (gagasan tentang kemajuan) muncul dari kesadaran manusia tentang diri sendiri dan alam sekitarnya. Dalam konteks ini, realitas aktivitas dakwah dihadapkan pada nilai-nilai kemajuan yang perlu direspon, diberi nilai, diarahkan, dan dikembangkan ke arah yang lebih berkualitas. Visi, misi, aktifitas dakwah perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

C. KESIMPULAN

Dakwah baiknya membumi dan menjadi atmosfer bagi kehidupan masyarakat. Merembes ke ranah pembangunan, budaya, serta mampu memahami dan mengikuti pola pikir masyarakat. Meskipun pesan dakwah ini sudah paten yakni wahyu Allah (Al-Qur’an), namun metode penyampaian dan kemasannya membutuhkan inovasi, kreasi, dan terorganisir sehingga dapat mengikuti perkembangan umat.

Begitu pentingnya sebuah strategi dalam dakwah Islam. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

DAFTAR PUSTAKA

Aripudin, Ecep. 2012. Dakwah Antarbudaya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Bachtiar, Wardi. 1997. Matodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos.

Efendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Harahap, Nasruddin. 1992. Dakwah Pembangunan.Yogyakarta.: DPD Golongan Karya Tingkat 1.

Hasjmy. 1974. Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang.

http://carapedia.com/pengertian_definisi_strategi_info2036.html

Omar, Toha Yahya. 1971. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya.

Syukir, Asmuni. 1998. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

Tasmara, Toto. 1987. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama.

[1] http://carapedia.com/pengertian_definisi_strategi_info2036.html , diunduh pada tanggal 4 Maret 2013, Jam 23:50 WIB.
[2] Onong Uchjana Efendi, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hal.300.
[3] Ecep Aripudin, Dakwah Antarbudaya, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.115.
[4] H.Nasruddin Harahap, Dakwah Pembangunan (Yogyakarta: DPD Golongan Karya Tingkat 1,1992), hlm.1.
[5] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1987), hlm.31.
[6] Wardi Bachtiar, Matodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos, 1997), hlm.31.
[7] Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm.18.
[8] Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya,1971),hlm.32.
[9] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1998),hlm.32.
[10] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1998),hlm.32-33.

apa sih dakwah itu?

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Aqidah Islam adalah gerakan berjiwa keyakinan berdasar Qur’an dan Hadits yang dilaksanakan dalam bentuk dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dengan Aqidah Islam terwujudlah pandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat duniawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan sebagai pribadi, suami, isteri maupun kolektif.
Dengan da’wah amar ma’ruf nahi mungkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, insya Allah terpenuhilah suatu kewajiban sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. dan ada harapan untuk memperoleh ridha Allah Swt. berupa kebaikan di dunia dan kenikmatan di akhirat.
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Al Jumu’ah (62): 2).

B. Rumusan Makalah

a. Mengetahui pengertian dakwah
b. Mengetahui tata cara dakwah dalam Islam
c. Mengetahui pentingnya dakwah

C. Tujuan Makalah
Memahami pengertian dakwah, taacaranya dalam islam, dan pentingnya berdakwah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dakwah
Pengertian dakwah bagi kalangan awam disalahartikan dengan pengertian yang sempit terbatas pada ceramah, khutbah atau pengajian saja. Pengertian dakwah bisa kita lihat dari segi bahasa dan istilah. Berikut akan kita bahas pengertian dakwah secara etimologis dan pengertian dakwah secara terminologis.

1. Etimologis

Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya (red. pelaku) adalah da’I yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’I sebagai orang yang memangggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya .

Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 10 macam yaitu:Mengajak dan menyeru, Berdo’a, Mendakwa (red. Menuduh), Mengadu, Memanggil, Meminta, Mengundang.
Dari makna yang berbeda tersebut sebenarnya semuanya tidak terlepas dari unsur aktifitas memanggil. Mengajak adalah memanggil seseorang untuk mengikuti kita, berdoa adalah memanggil Tuhan agar mendengarkan dan mengabulkan permohonan kita, mendakwa/menuduh adalah memanggil orang dengan anggapan tidak baik, mengadu adalah memanggil untuk menyampaikan keluh kesah, meminta hampir sama dengan berdoa hanya saja objeknya lebih umum bukan hanya tuhan, mengundang adalah memanggil seseorang untuk menghadiri acara, malaikat Israfil adalah yang memanggil manusia untuk berkumpul di padang Masyhar dengan tiupan Sangkakala, gelar adalah panggilan atau sebutan bagi seseorang, anak angkat adalah orang yang dipanggil sebagai anak kita walaupun bukan dari keturunan kita. Kata memanggil pun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia meliputi beberapa makna yang diberikan Al-Quran yaitu mengajak, meminta, menyeru, mengundang, menyebut dan menamakan. Maka bila digeneralkan makna dakwah adalah memanggil.

2. Terminologis

Definisi dakwah dari literature yang ditulis oleh pakar-pakar dakwah antara lain adalah:
a. Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6)
b. Dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).
c. Dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata (M. Abul Fath al-Bayanuni).
d.Dakwah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti (akhirat) (A. Masykur Amin)

Dari defenisi para ahli di atas maka bisa kita simpulkan bahwa dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam.

Setelah kita ketahui makna dakwah secara etimologis dan terminologis maka kita akan dapatkan semua makna dakwah tersebut membawa misi persuasive bukan represif, karena sifatnya hanyalah panggilan dan seruan bukan paksaan. Hal ini bersesuaian dengan firman Allah (ayat la ikraha fiddin) bahwa tidak ada paksaan dalam agama.

B. Tatacara dakwah dalam Islam
Metode dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan kemampuan masing-masing juru dakwah. Yang pasti, setiap Muslim wajib melaksanakannya karena seorang muslim berkewajiban menyebarkan kebenaran Islam kepada orang lain.

1. Dakwah Fardiah — Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).

2. Dakwah Ammah — Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.

3. Dakwah bil-Lisan — Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). Dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila disampaikan berkaitan dengan hari ibadah, seperti khutbah Jum’at atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

4. Dakwah bil-Haal — Dakwah bil-Hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan Dakwah bil-Haal ini dengan mendirikan Masjid Quba dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

5. Dakwah bit-Tadwin — Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang da’i, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.

6. Dakwah bil Hikmah — Dakwah bil Hikmah Yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif atau bijak, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dalam kitab Al-Hikmah Fi Al Dakwah Ilallah Ta’ala oleh Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian Al-Hikmah. Menurut bahasa, Al-Hikmah artinya adil, ilmu, sabar, kenabian, dan Al-Qur’an; memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan; ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama; obyek kebenaran (al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal; serta pengetahuan atau ma’rifat.

Menurut istilah syar’i, Al-Hikmah artinya valid (sah) dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara’ dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan menjawab dengan tegas dan tepat.

C. Pentingnya Dakwah

Aqidah Islam adalah gerakan berjiwa keyakinan berdasar Qur’an dan Hadits yang dilaksanakan dalam bentuk dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dengan Aqidah Islam terwujudlah pandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat duniawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan sebagai pribadi, suami, isteri maupun kolektif.

Dengan da’wah amar ma’ruf nahi mungkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, insya Allah terpenuhilah suatu kewajiban sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. dan ada harapan untuk memperoleh ridha Allah Swt. berupa kebaikan di dunia dan kenikmatan di akhirat.
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Al Jumu’ah (62): 2).

Dengan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar secara terus-menerus, maka insya Allah terwujudlah masyarakat/umat yang memiliki peradaban yang tinggi, mendapatkan ridha Allah Swt. terjauh dari kebinasaan, siksa-Nya baik di dunia demikian kelak di akhirat.
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Huud (11): 117).

Dengan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar secara terus-menerus, maka adalah satu usaha nyata untuk menyelamatkan diri kerabat, masyarakat, mereka mentaati atau tidak mentaati semuanya adalah kembali kepada yang bersangkutan masing-masing.

BAB III
KESIMPULAN

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala sesuai dengan garis aqidah, syari’at, dan akhlak Islam.

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah. Nabi Muhamad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan, dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kista dari Persia, dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).A

ingat mati