Strategi Pengembangan Dakwah

A. PENDAHULUAN

Dakwah merupakan tugas bagi setiap umat Islam yang dalam menjalaninya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Di lapangan begitu banyak persoalan dan tantangan. Mulai dari masalah ketidaktahuan umat terhadap syari’at hingga perselisihan antar umat Islam dan antar umat beragama. Disamping itu, saat ini zaman telah berkembang sedemikian rupa. Perkembangan budaya, ekonomi, pemerintahan, dan teknologi yang tumbuh begitu pesat. Bila dakwah Islam tak mampu mengikuti perkembangan zaman, tak menutup kemungkinan ia hanya akan terdampar di musieum peradaban. Dakwah hanya akan menjadi wacana dan kenangan semata, tanpa memperlihatkan pengaruhnya bagi umat dan dunia.

Untuk menghadapi hal tersebut perlu adanya pengorganisasian dan perencanaan yang baik, atau disebut juga dengan strategi. Sehingga dalam meleburkan diri dalam aktivitas dakwah, seorang da’i tak hanya berbekal keberanian dan keimanan saja. Karena perjuangan apapun bila tanpa strategi, akan terkalahkan dan kandas di tengah jalan.

Oleh sebab itu Dakwah Islam haruslah fleksibel, mampu mengikuti perkembangan zaman, perkembangan umat, dan perkembangan budaya umat. Untuk itu diperlukan strategi untuk mencapai hal tersebut, dengan kata lain begaimana kegiatan dakwah tersebut dikelola dengan memperhatikan fungsi menejemen yang profesional dan proporsional.

B. PEMBAHASAN

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani “strategia” yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.[1]

Menurut Onong Uchjana Effendi, bahwa strategi adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukan taktik operasionalnya.[2] Strategi dakwah Islam adalah perencanaan dan penyerahan kegiatan dan operasi dakwah Islam yang dibuat secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan Islam yang meliputi seluruh dimensi kemanusiaan.

Istilah strategi umumnya dikenal di kalangan militer karena berkaitan dengan strategi operasi dalam berperang. Strategi dalam pengertian ini berarti “Ilmu tentang perencanaan dan pengarahan operasi militer secara besar-besaran” atau berarti pula, kemampuan yang terampil dalam menangani dan merencanakan sesuatu. Mengapa perlu strategi karena untuk memperoleh kemenangan atau tujuan yang diharapkan harus diusahaka, tidak diberi begitu saja.[3]

Dakwah artinya menyeru, mengajak, atau mendorong.[4] Secara etimologi perkataan dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti, seruan-ajakan-panggilan.[5] Menurut istilah dakwah adalah suatu proses upaya mengubah sesuatu situasi kepada situasi yang lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah yaitu Al-Islam.[6] Menurut Hasjmy, dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syari’ah Islam yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalakan oleh pendakwah sendiri. Tujannya adalah untuk membentangkan jalan Allah di atas muka bumi agar dilalui umat manusia.[7] Sedang menurut H. Endang S. dakwah adalah penjabaran, penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia (termasuk di dalamnya politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan kesenian dan sebagainya.[8] Menurut Asmuni Syukir strategi dakwah artinya sebagai metode, siasat, taktik atua meniuvers yang dipergunakan dalam aktivitas (kegiatan) dakwah.[9]

Strategi dakwah yang dipergunakan di dalam usaha dakwah harus memperhatikan beberapa asas dakwah, agar proses dakwah dapat mngena sasaran dan mudah diterima oleh masyarakat objek dakwah. Beberapa asas dakwah yang harus diperhatikan di antaranya sebagai berikut :

1. Asas filosofis. Asas ini terutama membicarakan masalah yang erat hubungannya dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam proses atau dalam aktivitas dakwah;

2. Asas kemampuan dan keahlian da’i;

3. Asas sosiologi. Asas ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Misalnya, politik, pemerintah setempat, mayoritas agama di daerah setempat, filosofis sasaran dakwah. Sosio-kultural sasaran dakwah dan sebagainya;

4. Asas psikologis. Asas ini membahas masalah yang erat hubungannya dengan kejiwaan manusia. Seorang da’i adalah menusia, begitupun saran dakwahnya yang memiliki karakter (kejiwaan) yang unik yakni berbeda satu sama lainnya. Apalagi masalah agama, yang merupakan masalah ideologi atau kepercayaan (rakhaniah) tak luput dari masalah-masalah psikologis sebagai asas (dasar) dakwahnya; dan

5. Asas efektifitas dan efisiensi. Asas ini maksudnya adalah di dalam aktivitas dakwah harus berusaha menyeimbangakan antara biaya, waktu maupun tenaga yang dikeluarkannya dengan pencapaiaan hasilnya, bahkan kalau bisa waktu, biaya dan tenaga sedikit dapat memperoleh hasil yang semaksimal mungkin. Dengan kata lain ekonomis biaya, tenaga dan waktu, tapi dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin atau setidak-tidaknya seimbang antara keduanya.[10]

Dengan mempertimbangkan asas-asas sebagaimana tersebut diatas, seorang da’i tinggal memformulasikan dan menerapkan strategi dakwah yang sesuai dengan kondisi mad’u sebagai objek dakwah.

Urgensi Strategi Pengembangan Dakwah

a. Argumen Teoritis

Filosofi dakwah adalah usaha perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi, erat kaitannya dengan perbaikan (ishlah), pembaharuan (tajdid), dan pembangunan. Perbaikan pemahaman, cara berpikir, sikap, dan tindakan (aktifitas). Dari pemahaman negatif, sempit, dan kaku berubah menjadi positif dan berwawasan luas. Dari sikap menolak (kafir), ragu (munafik), berubah menjadi sikap menerima (iman), denan jalan ilm al-yaqin, haqqu al-yaqin menuju al-ain al-yaqin. Dari sikap iman emosional, statis, dan apatis, berubah menjadi iman rsional, kreatif, dan inovatif. Dari aktifitas lahwun, laib, laghwun yang tidak bermanfaat, baik secara individual dan atau secara kolektif. Semua itu untuk mewujudkan kegiatan dakwah yang antisipatif, kreatif, dinamis, dan relevan.

b. Argumen Empiris

Kondisi mad’u akan selalu berubah dan berkembang sesuai dengan tantangan dan kebutuhan yang dihadapinya, searah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih.

Apabila kenyataan kondisi sosial budaya selalu berubah dan berkembang, komponen dakwah yang erat kaitannya dengan usaha perubahan dan pembangunan perlu penyesuaian dan pertimbangan, pengakomodiran, dan pengarahan perubahan itu ke arah yang lebih baik, bernilai, dan lebih positif.

Walaupun teks suci (Al-Qur’an sebagai rujukan dakwah sudah final, tidak akan turun lagi, kenyataan yang terus berkembang menanntang dan selama manusia berada di dunia ini, persoalan dan tantangan tidak akan final (al-an-nushush qad intahat wa al-waqa’i la tantahi). Tantangan bagi para da’i adalah memiliki sikap kreatif dan inovatif, melalui ijtihad dalam menjawab tantangan masa depan.

Ketika dakwah diartikan sebagai transformasi sosial, dakwah akrab dengan teori-teori perubahan sosial yang mengasumsikann terjadinya progress (kamajuan) dalam masyarakat. Idea of progress (gagasan tentang kemajuan) muncul dari kesadaran manusia tentang diri sendiri dan alam sekitarnya. Dalam konteks ini, realitas aktivitas dakwah dihadapkan pada nilai-nilai kemajuan yang perlu direspon, diberi nilai, diarahkan, dan dikembangkan ke arah yang lebih berkualitas. Visi, misi, aktifitas dakwah perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

C. KESIMPULAN

Dakwah baiknya membumi dan menjadi atmosfer bagi kehidupan masyarakat. Merembes ke ranah pembangunan, budaya, serta mampu memahami dan mengikuti pola pikir masyarakat. Meskipun pesan dakwah ini sudah paten yakni wahyu Allah (Al-Qur’an), namun metode penyampaian dan kemasannya membutuhkan inovasi, kreasi, dan terorganisir sehingga dapat mengikuti perkembangan umat.

Begitu pentingnya sebuah strategi dalam dakwah Islam. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

DAFTAR PUSTAKA

Aripudin, Ecep. 2012. Dakwah Antarbudaya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Bachtiar, Wardi. 1997. Matodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos.

Efendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Harahap, Nasruddin. 1992. Dakwah Pembangunan.Yogyakarta.: DPD Golongan Karya Tingkat 1.

Hasjmy. 1974. Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang.

http://carapedia.com/pengertian_definisi_strategi_info2036.html

Omar, Toha Yahya. 1971. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya.

Syukir, Asmuni. 1998. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

Tasmara, Toto. 1987. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama.

[1] http://carapedia.com/pengertian_definisi_strategi_info2036.html , diunduh pada tanggal 4 Maret 2013, Jam 23:50 WIB.
[2] Onong Uchjana Efendi, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hal.300.
[3] Ecep Aripudin, Dakwah Antarbudaya, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.115.
[4] H.Nasruddin Harahap, Dakwah Pembangunan (Yogyakarta: DPD Golongan Karya Tingkat 1,1992), hlm.1.
[5] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1987), hlm.31.
[6] Wardi Bachtiar, Matodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos, 1997), hlm.31.
[7] Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm.18.
[8] Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya,1971),hlm.32.
[9] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1998),hlm.32.
[10] Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1998),hlm.32-33.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s